CERITA TENTANG KEGAGALAN

Kegagalan itu bukan aib 


            

Berbicara masalah kegagalan itu seakan-akan aib banget dan jangan sampai orang lain tau tentang itu agar kita gak malu. Setiap orang punya rasa ingin dilihat selalu perfect setiap saat dan pengennya prestasinya yang bejibun lalu di taro di highlight instagram atau linkedIn. Tulisan ini gw persembahkan untuk meminimalisasi anxiety gue terkait gagal yang gue dapatkan kurun waktu akhir 2019 sampai dengan 2020. Sampai detik ini gue masih bingung bagaimana mengevaluasi kegagalan yang sudah terjadi dan setiap orang selalu berkata, "jadikan itu pengalaman terbaik." Tapi, kalo udah terlalu banyak gagal gimana? pusing juga haha. Gue merasa akhir-akhir ini sangat kurang fokus, banyak tekanan, dan perasaan yang gak menentu. 

Gue selalu bingung ingin bercerita keluh kesah gue ke siapa? Karena gue tau setiap orang punya masalah. Dan saat itu juga mereka belum tentu bisa mendengar masalah gue. Melalui tulisan ini dan melalui blog gue berusaha meluapkan apa yang gue rasakan. Rasanya ini juga sangat fair untuk portofolio gue mengenai tulisan walaupun bukan tentang ilmiah. Balik lagi ngomongin kegagalan, sudah berapa banyak sih emang yang gue lalui selama ini? Okay gue ulas ya. 

Eitssssss.. Sebelum gue ulas tentang kegagalan gue mungkin kita kilas balik sedikit ya mengenai culture anak muda jaman sekarang. Kalian tau tentang toxic productivity ? Lah apa hubungannya sama kegagalan? Ya sabar bambang ini gue belum jelasin Jadi, menurut salah satu psikolog yaitu Dr. Julie Smith dalam videonya di BBC UK bahwa toxic productivity sebuah obsesi untuk mengembangkan diri dan akan merasa bersalah jika tidak melalukan banyak hal atau yang sudah kita agendakan. Hal ini menurut gue berhubungan dengan kegagalan. Tapi, jangan mikir toxic productivity yang buat gue gagal. Bukan ini ya bosque. 

Jadi, gue sering liat temen gue atau orang-orang di instagram meraih prestasinya. Disitu gue berusaha untuk imitasi hal tersebut dengan cara gue harus produktif dan membuat agenda ikut lomba, konferensi dan lain-lain deh yang kiranya itu keren. Tapi terkadang hal tersebut membuat kita memiliki ekspektasi yang tinggi sehingga dalam melakukan hal tersebut tidak realistis. Apalagi saat covid-19 ini saat kita di rumah seakan harus produktif, harus punya kegiatan, harus punya skill baru. Itu memang benar kawan, namun di dunia ini kita tidak sedang berlomba. Justru hal tersebut berdampak pada kesehatan kita, kurang tidur, kepikiran terus, harus nyusun rencana besok ngapain ya supaya bisa achieved sesuatu. Hubungannya seperti itu, kalau kurang mengerti coba komen saja ya :)

Akhirnya gue berusaha untuk memangkas rasa malu gue terkait kegagalan ini. Jadi ya gagal itu wajar. Sedih?boleh banget dan gagal itu bukan aib ya kawan-kawanQ.

Tentang Membangun Komunitas dan Bisnis

Gue berusaha untuk membangun beberapa organisasi non-profit, tetapi selalu berhenti di tengah jalan. Gue udah evaluasi apa diri gue yang salah atau justru gue salah memilih partner. Ternyata keduanya hampir benar. Sampai sekarang gue bingung harus nyari partner itu seperti apa? Gue udah melakukan pendekatan melalui teori ini itu dan bahkan gue sudah menurunkan egois dalam dirigue, tapi sampai sekarang belum menemukan yang pas. 

Gue berusaha untuk memulai bisnis dan sudah merencanakan business plan nya pun gagal. Udah 3 kali juga dalam membangun ini gue gagal. Bahkan belum sempat mencicipi gagal benerannya baru tahap membangun. Semoga suatu saat nanti bisa sukses hehe.

Tentang Akademik

Saat mau melaju ke perguruan tinggi, gue memilih jurusan memang varian banget. Mulai dari Hubungan Internasional, Manajemen, Pendidikan Bisnis, Sosiologi, Bimbingan Konseling hingga bahasa arab, bayangkan. Rasanya hidup gue gak punya prinsip. Dulu masih terlena dengan jargon kampus yang penting negeri. Padahal dalam diri dan hati gue mau banget sekolah bisnis, tetapi karena harus mengikuti realitas yang ada gue terpaksa harus memilih yang sesuai nilai gue. Dan sekarang gue di ilmu komunikasi. Tapi gue merasa bersyukur karena ilmu komunikasi adalah ilmu yang multidisipliner. Gue tidak menyesal, hanya saja mengapa semesta tentang ini gak mendukung gue? Ya walaupun pasti ada alasan...

Lalu masih tentang akademik nih bahwa gue kalah lomba esai sebanyak 6 kali dan sudah berusaha evaluasi setiap lombanya tapi tetep aja kalah woyyyyy. Jujur gue berharap minimal selama kuliah itu gue bisa menang 5 kek. Nah ini juga termasuk ekspektasi tinggi yang gue bilang tadi di toxic productivity wkwk. 

Gagal masuk XLFuture leaders yang menurut gue ini adalah salah satu pengembangan diri ter keren dan berbobot. Namun, gue menyadari dan harus realisits

Gagal ikut Future Leader summit dimana gagasan gue tertolak

Gagal ikut collegacy jakarta, kalau seandainya masuk akan dimentori oleh orang keren banget

Gagal ikut Mentor Cita, kalau ini gue menyadari bahwa saingannya sangat luar biasa banyak dan orang-orang yang sudah kompeten.

Gagal apalagi ya?Pokonya banyak deh :(

Tentang Internship 

Gue pengen banget magang, bahkan gak di bayar pun gakpapa. Tapi gue sudah daftar dan gagal 6 kali juga hehe. Bahkan sempet ada 2 email bertutur-turut selama satu minggu pengumuman bahwa gue gak lolos. Rasanya kegiatan yang udah gue ikutin, pengalaman yang udah gue jalanin sia-sia dan merasa kurang relevan dengan kriteria-kriteria perusahaan manapun. Padahal ada orang di luar sana yang nol pengalaman justru malah lolos. Apakah semesta masih gak berpihak sama gue? Kalau kalian melihat hal seperti ini lebay, tidak masalah. 

Semuanya yang sudah baca ini gue mengucapkan terima kasih banyak

Bahwa hidup ini memang seperti roda, gak bisa kita memilih untuk menjadi yang terpilih terus dan gak bisa kita meminta untuk menjadi pemenang. Tapi yang gue salut sama diri gue adalah SEMANGAT GUE GAK PERNAH PADAM. Mungkin sekarang gue butuh istirahat aja sejenak dan sandaran di blogspot ini. 


SEMANGATTT!!!!!!

Picture :unsplash.com/@yasinyusuf


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gakpapa GAK PINTER MATEMATIKA, BUKAN berarti Gue BODOH !!!