BELI ATAU JUAL PENDAPAT
Banyak si ya orang-orang dengan keluhan "gak di denger", " dicuekin", " kalau gw yang ngomong gak di dengerin, kan gw bego itung-itungan, gw gak handal". Namun, kita juga melihat sendiri sejago-jagonya "menjual" pendapat ya si pendengar bebas untuk memilih apakah ingin "membeli" atau "mengabaikan pendapat yang ia dengar.
Tak jarang saya mencoba berbicara lewat grup dengan kekuatan kata-kata yang tercipta dari Allah, ya tetap saja si pendengar, meskipun "iya iya", "oke oke" tidak mendengar semuanya,cuek saja. Persis Peribahasa, anjing mengonggong, kafilah berlalu. Pertanyaannya, bisa tidak kita hidup dengan menutup telinga atas opini, usulan dan masukan orang lain? SEBERAPA BESAR KITA SERING MENJUAL ATAU MEMBELI PENDAPAT ORANG?
KEYAKINAN YANG MANUSIAWI
Pemberitaan mengenai HOAX yang marak terjadi di Bumi Pertiwi ini yang demikian berbelit-belit yang membuat kita menjadi sulit untuk membeli pendapat yang mana. Sejak baru lahir, manusia sudah dibekali secara emosional maupun kekeluargaan, kemampuan meyakini dan mempercayai orang-orang yang di dekatnya.
Setiap harinya saya selalu bertemu dengan orang- orang yang berbeda karakter dengan saya, banyak sekali yang bertolak belakang dengan saya, terlebih saat saya mengeluarkan pendapat. Banyak sekali yang membantah, menyetujui , paling seneng kalau di luruskan. Selama ini saya selalu mengingat dan menulis jawaban atau tanggapan dari orang-orang atas pendapat saya
Ini adalah jawaban ketus semua orang yang sudah saya kumpulkan di note :
" Apaan si dit?, Apaan si? Apaan coba?" dia adalah orang yang selalu begitu setiap saya mengeluarkann pendapat.
"Kocak dah lo dit, kocak" dia yang selalu menganggap bahwa hanya dia yang benar
"dit, lo itu harusnya begini, harus begini karna..." dia adalah orang yang bisanya komen tanpa dia sadari dia juga seperti itu.
Saya tidak pernah memaksa seseorang untuk selalu meng "iyakan" pada pendapat yang saya keluarkan. Karna "membeli" atau "mengabaikan" pendapat saya itu adalah hak asasi manusia.
Bila rasa kepercayaan, rasa keyakinan tidak kita pupuk,bagaimana kita mau bekerja sama(yang ada lo egois), membina hubungan bisnis, bahkan memilih Presiden?
MARI KITA UJI OBJEK
Bila sudah tidak suka seseorang, hampir pasti ide orang tersebut, meskipun bagus, akan ditolak. Banyak ide bagus yang mental sebelum di presentasikan. Lama- kelamaan, orang-orang yang tidak berminat untuk mengemukakan ide dan gagasannya. Bukankah hal ini merugikan dirinya sendiri?
Untuk menumbuhkan rasa percaya dan memupuk keyakinan, kita perlu sesekali memeriksa diri dan mengevaluasi siapa saja orang yang selama ini kita percayai dan siapa yang tidak kita percaya. Keyakinan ini bisa saja salah. Untuk itu, kita perlu mengecek pada orang yang netral, untuk melihat apakah penilaian dan keyakinan kita cukup objektif.
Orang yang tidak percayaan pasti lebih sulit maju daripada orang yang biasa bersikap terbuka terhadap masukan. Kehidupan yang di bumbui sikap terbuka akan semua perbedaaan dan keinginan untuk memahami pendapat orang pastilah lebih menyenangkan dibandingkan kehidupan yang belum membeli pendapat orang lain.
BANYAK NANYA
Bayangkan, apa jadinya bila kita sudah tidak mau susah mempertanyakan fakta, pendapat, atau dilema untuk di olah ke dalam pikiran kita?
Untuk lebih meyakinkan diri kita, kita harus kritis akan pertanyaan. Dengan orang-orang yang kita temui senantiasa sesekali mempertanyakan "apa yang salah dari gw?", "gw gak sopan ya?" atau " gw terlalu pencicilan?" dengan kita bertanya hal-hal sepele seperti itu kepada teman kita dan orang-orang terdekat kita, kita akan merasa lega dan menjadi pribadi yang lebih baik. Karena, kita tidak pernah menutup pendapat yang baik dari orang lain.
Terima kasih. Nuhun tos di baca

Komentar
Posting Komentar